Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika: Berkah atau Musibah?
Jika
sejarah dalam cerita rakyat benar adanya,
maka Lombok patut berbangga dahulu pernah
memiliki seorang Puteri cantik yang tidak hanya memiliki tutur kata yang
berkelas, cerdas dan bijaksana. Tetapi juga telah rela mengorbankan jiwanya
dengan menceburkan diri di sekitar pantai Seger Kuta Lombok, agar raganya dapat
menebar manfaat bagi rakyatnya sampai masa yang lama, Puteri Mandalika. Warisan
yang ditinggalkannya, Pesta Bau Nyale
(Bau: menangkap, Nyale; cacing kecil yang hidup di bebatuan laut dangkal) setiap
sekali dalam setahun antara Februari-Maret masih menjadi agenda sakral yang
dipercaya sebagai jelmaan sang puteri. Hewan kecil berwujud cacing tersebut
tidak hanya membawa pesan bagi masyarakat Lombok, tetapi juga lezat dan
berprotein tinggi.
Masih
di tempat yang sama, Puteri Mandalika terus menebar aroma keindahan. Pesona budaya
yang sarat makna, pantai dengan sajian pasir putih yang berkapasitas snorkling, diving, sampai keindahan
rajutan kain songket adalah keniscayaan yang mengagumkan. Tidak heran nama sang
Puteri kini dijadikan nama tempat potensial yang telah lama dilirik pemerintah,
yaitu kawasan Mandalika. Sejak 25 tahun yang lalu, beriringan dengan berdirinya
Bandara Internasional Lombok, kawasan yang terletak di pantai Seger Kuta Lombok
Tengah seluas 1.035,67 hektar are tersebut akan segera dipoles menjadi
Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
Demi mendukung daya
juangnya, pemerintah berencana akan mengucurkan dana sebesar 1.8 Triliun pada
tahun 2016 untuk pembangunan infrastruktur dasar, seperti pembangunan jalan
utama, fasilitas listrik 106,92 ribu MW, penyediaan air bersih dan pengelolaan
limbah. Berkaitan dengan itu, keseriusan pemerintah nantinya akan benar-benar
diuji untuk menurunkan rencana tersebut dalam bentuk Rancangan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN).
Banyak yang penasaran
dengan kejutan yang akan disuguhkan pemerintah berupa kawasan elit Mandalika.
Terkhusus bagi masyarakat Lombok yang akan hidup berdampingan dengan wajah baru
Mandalika di masa yang akan datang. Halil, misalnya, seorang guru yang tinggal
di sekitar Pantai Kuta Lombok mengaku bahagia dengan rencana besar pemerintah
tesebut. Menurutnya, Lombok berpeluang
terbang lebih tinggi dengan menjual pesona yang dimilikinya, keindahan alam dan
keunikan budaya yang dimiliki akan segera dikenal masyarakat luas.
Namun, jika merujuk pada
3 indikator keberhasilan pembangunan wilayah; Pertama, produktivitas, yang dapat diukur dari perkembangan kinerja
suatu institusi dan aparatnya. Kedua,
Efisiensi yang terkait dengan meningkatnya kemampuan teknologi/sistem dan
kualitas Sumber Daya Manusia dalam melaksankan pembangunan. Ketiga, yaitu partisipasi masyarakat,
yang dapat menjamin kesinambungan pelaksanaan suatu program di suatu wilayah. Maka
dua poin penting yang menjadi ukuran keberhasilan pembangunan melibatkan
masyarakat sebagai pelaku utama. Artinya, penyelesaian rencana besar tersebut
tidak cukup hanya dengan memperbaiki infrastruktur atau menanam modal
sebanyak-banyaknya, akan tetapi terdapat Pekerjaan Rumah yang butuh perhatian
lebih serius, misalnya kualitas Sumber Daya Manusia sebagai daya dukung
pembangunan, kebudayaan daerah dengan pengaturan dan sistem yang menjamin
eksistensinya ke depan, lapangan pekerjaan, maupun pengelolaan limbah kawasan
tersebut.
Berkaitan dengan hal
itu pemerintah diharapkan tidak lagi memandang terlalu jauh untuk mencari
pelaku utama pembangunan, karena pada tahun 2011 tercatat 458.691 jiwa
masyarakat dengan usia produktif di Lombok Tengah. Selain itu, terdapat beragam
kekhasan daerah seperti songket sukarara, Gerabah Penujak, Gendang Beleq, Peresean, Ritual Nede. Terdapat pula
wisata kuliner seperti Cerorot, Pelecing,
Renggi, Uri, Ares dan lain sebagainya. Potensi ini setidaknya memberi warning bagi Pemerintah Provinsi, Pemerintah
Daerah, dan semua yang memiliki andil besar dalam pembangunan yang sudah-sudah,
bahwa tanpa melibatkan masyarakat pribumi, rencana tersebut dalam bencana.
Semua kalangan tentu
hanya mengharapkan keberhasilan dari setiap rencana dengan meminimalisasi
kemungkinan-kemungkinan buruk yang ada. Melalui rencana pembangunan Mandalika
sebagai Kawasan Ekonomi Khusus, semua elemen berpeluang menyuguhkan versi
terbaik. Menggiatkan SMK Pariwisata tampak menjadi satu terobosan untuk
mengerahkan tenaga terdidik di kawasan Mandalika kelak, atau penyiapan sumber
daya manusia berbekal pelatihan atau sosialisasi kepada masyarakat, maupun
kedekatan hubungan antara masyarakat, investor yang dijembatani pemerintah
diharapkan membuahkan hasil nantinya.


1 komentar
cara anda berpikir mengenai wacana pengembangan lokasi mandalika sangat pintar dan menarik. i like the way you think
BalasHapus