Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika: Berkah atau Musibah?



Jika sejarah dalam cerita rakyat benar  adanya, maka Lombok patut berbangga dahulu pernah  memiliki seorang Puteri cantik yang tidak hanya memiliki tutur kata yang berkelas, cerdas dan bijaksana. Tetapi juga telah rela mengorbankan jiwanya dengan menceburkan diri di sekitar pantai Seger Kuta Lombok, agar raganya dapat menebar manfaat bagi rakyatnya sampai masa yang lama, Puteri Mandalika. Warisan yang ditinggalkannya, Pesta Bau Nyale (Bau: menangkap, Nyale; cacing kecil yang hidup di bebatuan laut dangkal) setiap sekali dalam setahun antara Februari-Maret masih menjadi agenda sakral yang dipercaya sebagai jelmaan sang puteri. Hewan kecil berwujud cacing tersebut tidak hanya membawa pesan bagi masyarakat Lombok, tetapi juga lezat dan berprotein tinggi.

Masih di tempat yang sama, Puteri Mandalika terus menebar aroma keindahan. Pesona budaya yang sarat makna, pantai dengan sajian pasir putih yang berkapasitas snorkling, diving, sampai keindahan rajutan kain songket adalah keniscayaan yang mengagumkan. Tidak heran nama sang Puteri kini dijadikan nama tempat potensial yang telah lama dilirik pemerintah, yaitu kawasan Mandalika. Sejak 25 tahun yang lalu, beriringan dengan berdirinya Bandara Internasional Lombok, kawasan yang terletak di pantai Seger Kuta Lombok Tengah seluas 1.035,67 hektar are tersebut akan segera dipoles menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
Rencana besar pemerintah yang telah ditetapkan pada tahun 2014 tersebut difokuskan sebagai wilayah pengelola industri agro dan ekowisata dengan target pembangunan yang akan selesai pada tahun 2030 mendatang. Selanjutnya pembangunan KEK Mandalika terbagi menjadi tiga tahap, masing-masing memiliki porsi sebesar 49%, 27%, dan 24%. Namun tidak ingin terlalu lamban dalam mencapai keberhasilan, pada tahun 2015 pemerintah akhirnya menekan target pembangunan menjadi 10 tahun lebih cepat dari target awal, yaitu selesai pada tahun 2020.

Demi mendukung daya juangnya, pemerintah berencana akan mengucurkan dana sebesar 1.8 Triliun pada tahun 2016 untuk pembangunan infrastruktur dasar, seperti pembangunan jalan utama, fasilitas listrik 106,92 ribu MW, penyediaan air bersih dan pengelolaan limbah. Berkaitan dengan itu, keseriusan pemerintah nantinya akan benar-benar diuji untuk menurunkan rencana tersebut dalam bentuk Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN).
Banyak yang penasaran dengan kejutan yang akan disuguhkan pemerintah berupa kawasan elit Mandalika. Terkhusus bagi masyarakat Lombok yang akan hidup berdampingan dengan wajah baru Mandalika di masa yang akan datang. Halil, misalnya, seorang guru yang tinggal di sekitar Pantai Kuta Lombok mengaku bahagia dengan rencana besar pemerintah tesebut. Menurutnya, Lombok berpeluang terbang lebih tinggi dengan menjual pesona yang dimilikinya, keindahan alam dan keunikan budaya yang dimiliki akan segera dikenal masyarakat luas.
Namun, jika merujuk pada 3 indikator keberhasilan pembangunan wilayah; Pertama, produktivitas, yang dapat diukur dari perkembangan kinerja suatu institusi dan aparatnya. Kedua, Efisiensi yang terkait dengan meningkatnya kemampuan teknologi/sistem dan kualitas Sumber Daya Manusia dalam melaksankan pembangunan. Ketiga, yaitu partisipasi masyarakat, yang dapat menjamin kesinambungan pelaksanaan suatu program di suatu wilayah. Maka dua poin penting yang menjadi ukuran keberhasilan pembangunan melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama. Artinya, penyelesaian rencana besar tersebut tidak cukup hanya dengan memperbaiki infrastruktur atau menanam modal sebanyak-banyaknya, akan tetapi terdapat Pekerjaan Rumah yang butuh perhatian lebih serius, misalnya kualitas Sumber Daya Manusia sebagai daya dukung pembangunan, kebudayaan daerah dengan pengaturan dan sistem yang menjamin eksistensinya ke depan, lapangan pekerjaan, maupun pengelolaan limbah kawasan tersebut.
Berkaitan dengan hal itu pemerintah diharapkan tidak lagi memandang terlalu jauh untuk mencari pelaku utama pembangunan, karena pada tahun 2011 tercatat 458.691 jiwa masyarakat dengan usia produktif di Lombok Tengah. Selain itu, terdapat beragam kekhasan daerah seperti songket sukarara, Gerabah Penujak, Gendang Beleq, Peresean, Ritual Nede. Terdapat pula wisata kuliner seperti Cerorot, Pelecing, Renggi, Uri, Ares dan lain sebagainya. Potensi ini setidaknya memberi warning bagi Pemerintah Provinsi, Pemerintah Daerah, dan semua yang memiliki andil besar dalam pembangunan yang sudah-sudah, bahwa tanpa melibatkan masyarakat pribumi, rencana tersebut dalam bencana.

Semua kalangan tentu hanya mengharapkan keberhasilan dari setiap rencana dengan meminimalisasi kemungkinan-kemungkinan buruk yang ada. Melalui rencana pembangunan Mandalika sebagai Kawasan Ekonomi Khusus, semua elemen berpeluang menyuguhkan versi terbaik. Menggiatkan SMK Pariwisata tampak menjadi satu terobosan untuk mengerahkan tenaga terdidik di kawasan Mandalika kelak, atau penyiapan sumber daya manusia berbekal pelatihan atau sosialisasi kepada masyarakat, maupun kedekatan hubungan antara masyarakat, investor yang dijembatani pemerintah diharapkan membuahkan hasil nantinya.

1 komentar

  1. cara anda berpikir mengenai wacana pengembangan lokasi mandalika sangat pintar dan menarik. i like the way you think

    BalasHapus