Bangun! Bangun!

Assalamu'alaikum saudara sekalian! Sehat?
Lama gak jumpa ya? Iya, aku juga agak menyesal lama menghilang. Tapi tenang, aku menghilang untuk perbaikan. Perbaikan gizi? haha, iya itu salah satunya. Baiklah... yuk mulai.
*
Matahari di langit perbatasan Ibu kota ini masih sama seperti hari-hari kemarin. Biasanya pagi sampai saing hari suhu terasa lebih hangat dan panas, tetapi sore hari kadang terasa lebih dingin karena rahmat Tuhan turun membasahi tanah yang mengering, dedaunan yang mulai rontok dan emosi manusia yang kian memuncak.


Ciputat, termasuk dalam hitungan daerah Banten. Keberadaanya cukup strategis, akses ke beberapa tempat penting seperti lembaga pemerintah sampai dengan pusat perbelanjaan murah meriah cukup dengan carter angkutan umum seperti angkot atau komuter line. Yah, walaupun biasanya pilihan menggunakan angkutan umum sebagian besar bagi mereka para mahasiswa, rantauan, masyarakat kelas menengah dan sedikit diantaranya orang berada. Daerah ini juga memiliki titik-titik tertentu yang cukup dilirik, yaitu Bandara Soekarna-Hatta, perguruan Islam yang cukup kenamaan, yaitu UIN Syarif Haidayatullah dan lainnya. Apapun itu, bagaimanapun daerah ini, ternyata di sinilah, di pojok kampus II UIN Syarif aku sudah nyempil berteduh hampir 2 bulan lamanya. Mungkin tak penting membahas bagaimana perjalanan panjang sehingga Tuhan menginginkan aku berada di sini selama 3 bulan. Kuakui perjalanan itu mengharu biru, sempat terseok, bimbang, bingung bercampur takut. Namun, dari perjalanan itu aku sedikit membaca diri untuk bangkit dari keterpurukan.  

Pertama menginjakkan kaki ke daerah ini, kurasakan semangat menggebu sampai bisa bersinggungan dengan pori-pori dan aliran darahku. Namun bukankah mempertahankan sesuatu jauh lebih sulit dari pada mendapatkannya? Isn’t it? I think so. Hampir 90 hari aku berada di sini, lebih dari 100 kali melewati lorong yang sama untuk berangkat mengais ilmu kemudian kembali lagi ke peraduan, progress test yang dilaksanakan 2 minggu sekali akan masuk yang ke-tiga minggu ini. Semuanya terasa begitu singkat dan cepat. Sisa waktukupun tak seberapa. Artinya, peningkatan hasil belajar dari beberapa proses yang kurasa cukup menyita waktu, tenaga dan peluh ini mestinya ada kemajuan, setidaknya untuk menghargai diri sendiri yang telah berusaha belajar.
       Namun sejenak aku melongo, mengingat-ingat bagaimana aku berproses dengan pelajaran itu, seberapa rela dan ikhlas aku dalam menerima ilmu, dan seberapa besar peningkatanku dari test yang satu ke test berikutnya. Saat itu juga, terasa jelas ternyata aku belum ada apa-apanya, belum ada modal untuk mencapai target. Kesadaran  ini sebenarnya telah ada beberapa minggu yang lalu! Bayangkan, hitungan minggu! Tidak lagi hari ataupun jam. Ternyata orang yang berlalu-lalang di kehidupanku bukan tanpa arti. Mereka semuanya dikirim untuk memberi ibrah di setiap perjalanan. Walalupun kadang orang yang sering mengajak dan memberi warning dengan tujuan-tujuan awal kita adalah mereka yang jauh dari diri kita. Oh God, terima kasih untuk ini semua.  

Tak ayal, pada hari ini Rabu, 11 Mei 2016, 17 hari menuju umurku yang semakin menua, aku benar-benar tersadar dari mimpiku yang panjang dan tak berguna. Jika kata Pak Atiq Susilo bilang, ‘cambuk paling ampuh agar seseorang aware dengan diri dan kemajuan seseorang adalah rasa malu: malu ketika pulang kampung nanti tidak membawa apa-apa yang berguna'. Maka benar adanya, mereka yang melanjutkan pendidikan ke luar negeri jarang sekali mengecewakan, kuatnya tekad mereka stagnan dari awal hingga akhir,  meskipun dinamis, kedinamisannya pada perbaikan bukan pada kemunduran. Kemudian kulirik diriku sendiri, rasa malu itu ternyata sering timbul lalu tenggelam begitu saja. Apakah hatiku angkuh sehingga aku masih tetap saja berleha-leha dengan apa yang ada, dengan apa yang aku punya, dan apa yang aku rasa? #udahjanganBAPERR.   

Tepat pada hari lahir seorang intruktur sekaligus Kepala Pusat Pengembangan Bahasa UIN Syarif, Ibu Nurul, (wanita enerjik bergelar Ph.D lulusan salah satu perguruan tinggi kenamaan di Belanda) semuanya benar-benar terbuka. Setelah memberikan sedikit kejutan untuknya, beliaupun pelan-pelan memberi kode bahwa hari ini tidak belajar (dalam hati aku berbisik sendiri: yesss3x dan menyanyikan lagu sorak-sorak gembira). Beberapa menit berjalan pelan, Bu Nurul menjawab satu persatu pertanyaan yang kami ajukan. Barangkali pertanyaan-pertanyaan kami adalah pertanyaan semelekethe yang sama sekali tidak berkelas, namun jawabannya terasa menyambukku diam-diam, menyinggung tujuan awalku, seketika menghentikan kantukku (sepertinya menarik). Semula, kuliah yang diberikannya selalu saja, selalu membuat mataku berat lalu tertidur dan kadang bisa membuat pulau #uwekk, jorok. Beliau mulai bercerita, dan aku mulai memperhatikan sambil memperbaiki posisi duduk. Dalam hati aku berkilah, kok cerita hidup kita mirip, Bu? Jangan-jangan nanti aku akan jadi pengganti ibu? Hasekkk

Sekedar info, beliau terlahir dari keluarga PNS, oke ini jauh beda dari diriku, belum ada satupun anggota keluargaku yang menjadi PNS, diplomat, artis, camat atau lainnya. Benar-benar belum ada. Hah! Bedanya aku terlahir dari keluarga petani asli! Asli. Siang malam keluargaku memikirkan bagaimana perkembangan sawahnya. Hidup di tengah-tengah kelaurga sederhana. Kadang lauk yang enak harus dibagi rata bersama dengan 5 anggota keluarga, itupun sampai 2-3 hari kuahnya masih dipertahankan untuk sekedar memberi rasa pada nasi putih.#udahjangannangis... Lanjut… ah, banyak babibu. Ibu nurul bilang, bahwa dia berasal dari keluarga sederhana. Nah kan sama? yang penting ada kata-kata sederhananya. Ini maksa.

Bu Nurul juga lahir sebagai anak pertama dan perempuan satu-satunya. Nah, sama lagi, kan? Yoi dooong… tanggung jawabnya tentu lebih terasa, karena sejujurnya menjadi anak perempaun pertama dan satu-satunya itu suatu kebanggaan sekaligus kemirisan. Artinya, kalau berhasil memberi kebanggaan, memberi contoh kepada adik-adik tentu senyum merekahlah yang akan mengembang. Tetapi jika belum berhasil melakukan itu, maka awan terasa makin tebal dan menggelayut. Beliau berusaha mandiri agar tidak diremehkan. Yang mandiri saja jarang mendapat penghargaan dari orang terdekat, apalagi yang tidak mandiri?

Huaa? Cuma dua dooang yang mirip? Hadeuhh?! Iya emang Cuma dua hahahah. Saat ini bu Nurul sudah 40 tahun, memiliki 2 anak yang katanya imut-imut manja. Eit sebentar, ada yang menarik dari kata manja ini. Ibu nurul memberi contoh, anak-anaknya sering meminta hal-hal yang mahal dan tidak sewajarnya. Ini ketakutannya, sekaligus ketakutaku. Pesan yang kutangkap dari sana, ketika punya anak nanti ajaklah mereka menghargai hidup dengan manaruh bekas mandi sendiri, merapikan kamar tidur sendiri, naik angkutan umum yang gerah, dan lainnya.

Apapun itu, hari ini aku merasa lebih tenang. Hidup terasa menyenangkan… seolah aku tau apa yang harus aku eksekusi segera. Cheers You Up!


Mei, cepatlah berlalu agar Juni segera menyapa dan Juli segera hadir.


2 komentar