Alangkah 'Seragamnya' Negeriku
Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Berembe kabar, batur? Mudahan sehat.
Wiwiwiwiwiw, baru nongol lagi ye. sorry. Sibuk, iya sibuk kerja (kerjain orang). Haaa
Berbicara tentang pekerjaan ideal menurut sebagian besar orang, berarti tidak jauh dari apa yang dikenakan: seragam. Seragam adalah identitas. Ia membawa efek besar pada orang yang mengenakan seragam semacam rasa bangga. Dalam praktiknya, seragam yang muncul dengan berbagai corak, mode, warna ternyata memiliki arti yang banyak, biasanya mengandung arti pada visi misi. Seragam juga berarti: kita yang berseragam menjalankan fungsi kerja yang sama. Dengan seragam tentu kita akan merasa terbantu untuk menunjuk orang yang tepat, misalnya pada saat terjadi bencana, kita akan mudah meminta pertolongan dan percaya pada mereka yang berseragam putih. Namun, lambat laun 'seragam' ini dielu-elukan jauh ke atas, sehingga mereka yang berseragam merasa lebih dibanding mereka yang tidak berseragam.
Berembe kabar, batur? Mudahan sehat.
Wiwiwiwiwiw, baru nongol lagi ye. sorry. Sibuk, iya sibuk kerja (kerjain orang). Haaa
__
Terlahir dari keluarga golongan Jajar karang (golongan terendah masyarakat Sasak dilihat dari sistem sosial), yaitu petani rasanya rame boi. Sejak kecil sampai saat ini berdiam diri di lingkungan keluarga Ayah mau tidak mau membawa dampak besar dalam tumbuh kembang saya. Saya tidak tahu, keluarga saya sudah pantas disebut sebagai petani professional atau tidak. Kalau dihitung dari segi jumlah, semua, iya semua anggota kaluarga adalah petani. Belum lagi bidang bercocok tanam yang dikuasai, rata-rata semuanya punya kemampuan sama, menanam padi, tembakau, dan kacang-kacangan lah pokoknya. Tetapi, disebut petani amatiran juga bisa jadi, hasil pertaniannya itu-itu saja, tidak pernah meningkat ataupun ada inovasi baru, selalu bergantung pada musim=pengangguran tak kentara. Ini dilema. Serius.
Terlahir dari keluarga golongan Jajar karang (golongan terendah masyarakat Sasak dilihat dari sistem sosial), yaitu petani rasanya rame boi. Sejak kecil sampai saat ini berdiam diri di lingkungan keluarga Ayah mau tidak mau membawa dampak besar dalam tumbuh kembang saya. Saya tidak tahu, keluarga saya sudah pantas disebut sebagai petani professional atau tidak. Kalau dihitung dari segi jumlah, semua, iya semua anggota kaluarga adalah petani. Belum lagi bidang bercocok tanam yang dikuasai, rata-rata semuanya punya kemampuan sama, menanam padi, tembakau, dan kacang-kacangan lah pokoknya. Tetapi, disebut petani amatiran juga bisa jadi, hasil pertaniannya itu-itu saja, tidak pernah meningkat ataupun ada inovasi baru, selalu bergantung pada musim=pengangguran tak kentara. Ini dilema. Serius.
Aseliii, satupun anggota keluarga saya tidak ada yang berprofesi lain seperti menjadi wirausahawan, dokter, dosen, gubernur, duta besar, menteri atau presiden (ini kejauhan). Alhasil, saya dan anggota keluarga yang baru lahir sudah diberi titah jauh-jauh hari untuk merubah nasib keluarga. (Tinggal tunggu waktu aja, saya ajakin adik-adik berubah kayak superm*n dan saya membawa semua anggota keluarga dan penduduk bumi ke planet Merkurius. Biar semuanya gak ada yang nganggur minta kerjaan, semuanya akan disibukkan dengan profesi baru tentunya, profesi cari cara dapet oksigen).
Akhirnya permintaan tersirat keluarga pada kami-kami yang masih muda dan unyu-unyu ini mau tidak mau berdampak pada kami. Semacam ada listrik bertegangan tinggi di bawah kaki yang diinjak tanpa alas, tenaganya bisa bikin gosong terus qo’it dalam hitungan menit bahkan detik. Tapi sering merasa bingung sendiri, anggapan keluarga tentang profesi yang akan merubah nasib terkesan kaku. Bahkan sangat kaku. Ya, saya tidak bisa menyalahkan keluarga, karena ternyata keluarga lain, masayarakat lain di lingkungan saya dan lingkungan yang lebih luas lagi, bahkan di negeri ini hampir sama: mengartikan orang sukses itu adalah mereka yang berseragam, dan gaji tetap setiap bulan. Ini identik dengan pegawai kantor. Al hasil, angan-angan tertinggi orang tua kebanyakan adalah keluarganya (anaknya, cucunya, cicitnya, sampai menantunya) menjadi pegawai kantor. Mungkin ada rasa bangga tersendiri, semacam setelah menjadi pegawai elu bisa meningkatkan nilai tukar rupiah terhadap dollar, atau elu udah bisa mengentaskan kemiskinan di Indonesia dalam waktu sekejap. Lahirlah anggapan, bahwa pegawai kantoran sudah menjadi the one and only pekerjaan yang dapat mengangkat harkat dan martabat di mata orang lain. Hal ini sudah menjadi sistem hidup yang mengakar jauh ke dasar kehidupan kita. Kalau di Lombok, istilah golongan Jajar karang bisa naik menjadi perwangsa (bangsawan) jika sudah menjadi pegawai.
Berbicara tentang pekerjaan ideal menurut sebagian besar orang, berarti tidak jauh dari apa yang dikenakan: seragam. Seragam adalah identitas. Ia membawa efek besar pada orang yang mengenakan seragam semacam rasa bangga. Dalam praktiknya, seragam yang muncul dengan berbagai corak, mode, warna ternyata memiliki arti yang banyak, biasanya mengandung arti pada visi misi. Seragam juga berarti: kita yang berseragam menjalankan fungsi kerja yang sama. Dengan seragam tentu kita akan merasa terbantu untuk menunjuk orang yang tepat, misalnya pada saat terjadi bencana, kita akan mudah meminta pertolongan dan percaya pada mereka yang berseragam putih. Namun, lambat laun 'seragam' ini dielu-elukan jauh ke atas, sehingga mereka yang berseragam merasa lebih dibanding mereka yang tidak berseragam.
Demikian tinggi poisisi seragam dalam kehidupan masyarakat. Dalam kehidupan nyata, jarang terdengar seorang ayah bertanya kepada anaknya, atau kakak, bertanya kepada diknya yang telah kerja dan dinas memakai seragam: berapa gajinya? Padahal ngaku atau nggak, gaji itu hal terpenting dalam pekerjaan, bukan seragamnya. Bayangin deh, seorang penjual pelecing pinggir jalan yang tempatnya tidak terlalu mewah, pake gerobak dorong yang tiap hari pakai pakaian biasa bisa dapet 1 juta perhari. Silahkan kalikan dengan 30 hari, kemudian kalikan dengan 360 hari. Udah bisa naikin haji 5 orang anggota kelaurga setiap tahun itu mah. Itupun jualannya dari pukul 5 sore sampai pukul 9 malam. Nah, yang berseragam, gaji 3-5 juta perBULAN, 3 juta dibagi 30, kemudian dikali 360 hari. Udah bisa beli mobil, iya mobil tua.
Saya mah biasa aja dengan itu, karena banyak pegawai yang bekerja cerdas dengan profesinya. Namun ternyata masih lebih banyak lagi yang kerjanya asal-asalan, cari aman, dan stabil.
Penggunaan seragam dalam beberapa hal memang baik, seperti institusi pendidikan, pada siswa atau mahasiswa. Situasi seperti itu akan akan menyamaratakan status, tidak pandang bulu mau kaya atau tidak berada.
__
So, Tidak heran, berita di berbagai media tentang CPNS Kena Tipu sudah tidak lagi menjadi TOP News, tapi basi News. Yuhuuu, begitu pentingkah seragam itu?
Berkaitan dengan itu, tentu masyarakat (termasuk saya gak usah naïf deh) menginginkan status sosial keluarga bisa move on. But hey, saya yakin ada cara lebih baik untuk itu. Tapi sekali lagi, saya menyadarkan diri sendiri bahwa ini sulit dihilangkan. Oleh pemerintah sekalipun, -wong pemerintahnya juga ikut masuk di kasus penipuan kok-. Eh, kidding ya.
Jika seragam memang demikian adanya, berarti sah-sah saja, dong jika semua profesi saatnya memakai seragam seperti yang lain. Petani kalau ke sawah nanem padi punya seragam khusus, serempak. Harus sama se-Indonesia. Kalau ada yang tidak menggunakan seragam, minta denda dengan mengeluarkan sejumlah hasil pertanian pada tempat penyimpanan khusus denda.
Bagi para nelayan pun demikian, seragam se Indonesia sama. Bila perlu, seragam yang digunakan ada tiga jenis, agar dalam seminggu dapat berganti seragam. Peternak pun demikian, seragamnya sama se-ndonesia. Pedagang asongan, yok pake seragam yok...
Bagi saya, kebiasaan masyarakat yang telah mengakar bertahun-tahun tentang seragam mesti diakali dengan hal sama, seragam.
Berkaitan dengan itu, tentu masyarakat (termasuk saya gak usah naïf deh) menginginkan status sosial keluarga bisa move on. But hey, saya yakin ada cara lebih baik untuk itu. Tapi sekali lagi, saya menyadarkan diri sendiri bahwa ini sulit dihilangkan. Oleh pemerintah sekalipun, -wong pemerintahnya juga ikut masuk di kasus penipuan kok-. Eh, kidding ya.
Jika seragam memang demikian adanya, berarti sah-sah saja, dong jika semua profesi saatnya memakai seragam seperti yang lain. Petani kalau ke sawah nanem padi punya seragam khusus, serempak. Harus sama se-Indonesia. Kalau ada yang tidak menggunakan seragam, minta denda dengan mengeluarkan sejumlah hasil pertanian pada tempat penyimpanan khusus denda.
Bagi para nelayan pun demikian, seragam se Indonesia sama. Bila perlu, seragam yang digunakan ada tiga jenis, agar dalam seminggu dapat berganti seragam. Peternak pun demikian, seragamnya sama se-ndonesia. Pedagang asongan, yok pake seragam yok...
Bagi saya, kebiasaan masyarakat yang telah mengakar bertahun-tahun tentang seragam mesti diakali dengan hal sama, seragam.
__
Namun, jika boleh melirik lagi kebelakang, apakah memang mereka yang berseragam yang kemudian bisa membeli kehormatan dalam sistem hidupnya itu salah? Salah siapa?
Tinggal hitungan hari, udah Idul Adha aja. Hah? 17 Agustus? Udah Lewat keleus. Apalagi lebaran...
Begitulah adanya. Kita menunggu dari waktu-kewaktu, gajah putih akan memberi sedikit pencerahan, sehingga profesi apa saja yang dijalankan adalah kebaikan. Kapankah itu? Ketika semua manusia Indonesia, dari segala profesi tidak menjadikan profesinya sebagai kebanggaan yang berlebihan, melainkan menjalankan profesinya sebagai cara kecil untuk mencintai negeri ini.
Bagaimana pula rasa cinta itu terpupuk jika setiap hari, gambaran nyata dari ketidakjujuran mereka yang menjadi penguasa terus berhamburan? Cinta ini rasanya terhalang tembok besar bernama korupsi, ketidakadilan, ketidakjujuran dan penyelewengan. Itulah yang membuat kami bimbang memutuskan untuk berani bermimpi membuat hal-hal baru, bermimpi membuat kendaraan tanpa bahan bakar, takut jika keinginan untuk menciptakan buku dari tanah atau lainnya. Sebenarnya kami ingin berlari jauhh dari kenyataan hidup yang lebih pahit dari sekedar bangga menggunakan 'seragam'.
Menurut data Badan Pusat Statistik, hingga Februari 2015 angka pengangguran terbuka di Indonesia sebanyak 5,8 persen dari total angkatan kerja 128,3 juta orang. Apakah jumlah yang banyak ini sedang menunggu 'seragam' juga? Entahlah.

0 komentar