Please, Be Grateful...

Bismillahirrahmaanirrahiim...
Terlahir dari keluarga petani dan hidup selama bertahun-tahun dengan mereka mengantarkanku pada pembiasaan diri dengan hal-hal yang berkaitan dengan pertanian, mulai dari beragam jenis bibit padi dan biji-bijian sampai dengan berapa upah buruh tani menurut jenis pekerjaan mereka. Bersumber dari profesi kedua orangtuaku itulah aku menyimpulkan bahwa petani adalah sebuah pekerjaan yang menyeret pelakunya masuk pada golongan pengangguran tak kentara. Hal ini dikarenakan pekerjaan tersebut bergantung pada musim. Padi yang selama ini masih memiliki posisi teratas jika diakitkan dengan kesejahteraan petani tentu tidak dapat ditanam setahun, begitu juga petani tembakau tidak akan dapat menanam tembakau selama setahun penuh, sama halnya dengang tanaman-tanaman lain. 
Sadar atau tidak, profesi tersebut saat ini dilakoni oleh 3 juta penduduk yang tesebar di seluruh Indonesia. 11 wilayah yang menjadi sentra produksi beras seperti, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat, Aceh, Bali, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung, dan Sulawesi Selatan seperti tak memberi sumbangsih yang cukup berarti bagi 250 juta penduduk Indonesia. Alhasil, janji pemerintah untuk tidak mengimpor beras pada 2013 tinggallah kenangan, sebab pada tahun 2014 kemarin beberapa negara berhasil mengekspor beras ke bumi pertiwi ini, seperti Thailand (90.763 ton atau US$ 42,6 juta ), India (61.546 ton atau US$ 22,3 juta), Pakistan (8.950 ton atau US$ 3,33 juta), Vietnam (6.206 ton atau US$ 3,3 juta), dan Myanmar (8.136 ton atau US$ 2,7 juta). Hal ini mau tidak mau berpengaruh pada harga beras yang mencekik, yaitu Rp12.444,00 per kg pada Januari 2015.
Awalnya, aku menganggap sawah sebagai arena bermain yang sangat menyenangkan. Asyiknya salto di atas tumpukan jerami, bermain air di lereng pematang sawah, sampai menagkap siput atau belalang merupakan rutinats yang pasti kulakukan ketika melangkahkan kaki di hamparan sawah. Namun, semenjak 2 hari yang lalu kesengan bermain tersebut benar-benar harus kuubah menjadi hal lain yang lebih bermakna. Saat itu, sekelompok petani yang tergabung dalam kelompok panen padi tengah memanen padi yang ada di sawah milik keluarga kami. Berberapa waktu sebelum prosesi panen padi selesai, akau membantu memasukkan padi ke dalam bebrapa karung yang tersedia. Saat itu pula aku merasakan gatal luar biasa, pakaian yang kukenakan penuh keringat, panas dan lelah. Sejenak aku berpikir bahwa pekerjaan yang kulakukan adalah secuil dari pekerjaan petani tersebut. Saat itu pula terbayang nasi yang sering aku sisakan ketika sok lapar, dan meninggalkannya begitu saja ketika sedikit kenyang tanpa memikirkan proses adanya nasi yang kumakan.
Harus diakui, sebelum ditanam, bibit padi unggulan yang telah dipilih lalu ditempatkan pada tempat khusus penanaman bibit, selanjutnya ditanam. Namun prosesnya tidak hanya sampai di situ, sebelumnya petani harus membajak sawah. Selama peroses menunggu padi berbuah, proses lainnya seperti menyiangi, dan memumpuk adalah hal yang wajib dilakukan.  
Oleh karena itu, siapapun kita, mampu atau tidak, kaya atau miskin... Ayolah kita sedikit bersyukur untuk tidak berlebih-lebih, pun pada beberapa bulir nas yang kita makan setiap hari. Rizki yang hendaknya kita syukuri dan nikmati untuk mengakui kebesaran Tuhan, dan menghargai usaha para petani yang telah rela menanam sampai memanen padi sehingga menjadi nasi.   
 

0 komentar