Indonesiakah itu?

Assalamu'alaikum...

Waktu menunjukkan pukul 15.37 WITa. Jalanan telah berubah sepi dan sedikit sunyi, sebagian aktifitas telah selesai beberapa menit yang lalu.

Awan masih belum selesai memuntahkan isi perutnya ke bagian-bagian bumi sesuai dengan catatan dari Tuhannya. Meski kawanan bulir air ini tak banyak, durasinya cukup lama, sejak beberapa jam lalu mereka belum mau berhenti. Suasana klimis yang bisa menahan langkah siapa saja untuk beraktvitas di luar rumah dan begitu melenakan untuk menyandarkan kepala di bantal empuk dengan sehelai selimut. Meski kelabu, sisa-sisa cahaya matahari yang tertahan di langit masih dapat berpendar menerangi sebagian ruangan dari balik jendela. Lukisan alami yang bisa membuat nafasmu tertahan sejenak jika memperhatikannya dengan seksama.
Sejak pertengahan siang tadi aku memutuskan untuk memasuki ruangan khusus yang menyediakan layanan internet di lantai dua. Ruangan yang cukup besar dan nyaman untuk mahasiswa. 4 buah pendingin ruangan bertengger di atas tembok sebelah kiri dinyalakan dengan volume sedang, sementara 40 pasang meja mulus dan kursi empuk berbaris rapi menghadap ke utara lengkap dengan 40 perangkat komputer bermerk luar negeri. Aku berada di barisan keempat meja paling kiri tepat di sebelah jendela. Gorden berwana hijaunya menyisakan suasana bahwa aku benar-benar berada di tempat yang nyaman. Dedaunan dari pohon kokoh dan rimbun yang berada di balik jendela terlihat memercikkan air ke tanaman yang ada di bawahnya. Daunnya beraneka warna, hijau pada dedaunan baru, kuning pada dahan keringnya, dan cokelat pada dahan yang sudah renta. Tentu saja bangunan yang berdampingan dengan pepohonan itu tidak akan kepanasan apabila matahari menjilat kasar. 
Aku yakin, keadaan semacam ini adalah jaminan bahwa keadaan alam Lombok sedang baik-baik saja. Masyarakatnya tak perlu pusing memikirkan rumahnya karena terkena banjir, tak perlu memikirkan jalur mana yang akan ditempuh jika semua jalan tergenang air, tak perlu pula memikirkan kendaraannya yang terperangkap di tengah jalanan aspal banjir. Rasanya, semakin istimewa saja nikmat Tuhan yang diterima cuma-cuma ini.
Sejenak aku memutar kursi putar yang kududuki menghadap jendela. Aku, kamu dan mereka memandang langit yang sama, hanya saja kali ini aku memandang langit mendung, kamu mungkin beratap langit hitam pekat, dan mereka mungkin tengah memandang langit cerah, dan sebagiannya lagi sedang kisruh karena kedanaan dan warna langit yang tak menentu. Hal yang terbayangkan jika aku dan ribuan orang lain mencari tempat lain untuk mengulum tubuh.

Banjir yang bertamu di ibu kota masih menjadi topik terhangat di seluruh media massa. Berita di salah satu media menyebutkan, banjir telah memakan 12 korban jiwa. Indonesia mulai membalut luka. Tragedi Air Asia beberapa waktu lalu masih menyisakan perih dan tanda tanya. Indonesia kembali harus berkaca. Polemik politik yang (sepertinya) sebentar lagi akan menuai klimaks dipadu-padankan dengan tangisan alam. Itulah warna-warni Indonesia. Negara yang sebenarnya sebentar lagi menyentuh langit, tiba-tiba terhalang awan tebal yang membuat para petinggi harus berpikir ulang tentang banyak rencana yang ada.

ntar lanjut lagi

0 komentar