Pagi yang Berair Mata

Tercatat Kamis, 05 Desember 2013

    Kubuka mata dengan ucapan syukur pada-Nya Yang Mahakuasa, Maha Pemurah yang masih memberikanku kesempatan melihat indahnya dunia pagi ini. Pagi yang meletihkan, mengingat malam tadi, panca indra dan tubuh ini dipaksa memenuhi kewajibannya, mengerjakan makalah yang akan dipresentasikan hari ini. But, never mind. Hanya saja aku sedikit letih dengan perjalanan kemarin sore ketika pulang. Mendapati macet yang panjangnya hamper 7 kilo bagiku adalah hal yang sangat asing dan menjengkelkan.
    Ayah yang sudah menyiapkan diri untuk melakukan perjalanan jauh tampak sedikit murung. Aku melihat sendiri dari raut wajahnya yang tirus dan tampak menua. Ada raut sedih sekligus berat meninggalkan kami. Ke Malaysia dear, ke negeri orang yang terkenal tampat para tenaga kerja Indonesia berkumpul. Ayah… kau melakukan hal yang sama, dengan keringat yang terus bertambah, sedangkan usiamu semakin berkurang, otot-ototmu tak sekuat dulu. Aku melihat gurat kesedihan itu tepat di wajah sayu dan mata damainya.
    Jam menunjukkan pukul enam pagi, aku masih berkutat di depan laptop untuk melanjutkan makalah dan membuat slide. Ayah yang ingin segera menghindar dari kesedihan dan air mata yang sebentar lagi menetes mengajak sarapan bersama. “Ulya, ayo kita sarapan sama-sama dulu, ini udah pukul enam, takut telat”. Itulah ajakan yang saaaangat aku suka. Damai.
    Sementara di dekat tempatku membuka laptop, ada adik bungsu yang masih memperbaiki diri untuk segera bangun. Sedangkan adik yang ke dua sedang ada di sampingku. Aku segera menutup laptop, dan aku mengecek agendaku pagi ini. Sekali lagi panggilan ayah mengajak. Kali ini ditambah panggilan dari Ibu. Dengan segera aku menghampiri mereka yang telah siap sarapan pagi. Dengan menu yang lumayan spesial dan selalu ditunggu-tunggu keluarga kami. Pagi  kami menjadi sedikit lebih bertenaga walaupun ayah akan segera melambaikan tangannya. Ayaaaah.
    Porsi yang kuhabiskan hanya sedikit saja. Dari lima orang anggota, kali ini aku menjadi pemenang menghabiskan sarapan pagi. Alhamdulillah. Segera aku meluncur ke kamar mandi untuk melakukan ritual di dalamnya. Tak lupa kuselipkan sebait lagu untuk menemani suara air yang mengalir. Hasilnya, ditegur Ibu. Haha
    Akhirnya aku sudah siap dengan semua barang bawaan. Mulai dari lauk yang dibuatkan Ibu untuk dibawa ke kostan sampai buku PUSDA yang kubawa ke rumah. Tak lupa Ibu mengingatkan semua barang-barangku. Memang dia selalu menjadi pengingat terbaik yang kumiliki. Dia selalu mengerti dan ingat kalau aku adalah anaknya yang pelupa. Sejenak kutunggu ayah yang tengah memasang tali sepatu.
    Rintik-rintik hujan membasahi bumi sejak tadi malam. Sampai pagi tiba, titik hujan masih saja tetap bertahan. Mereka sepertinya ingin menghibur kami. Aku memperhatikan titi-titiknya yang terbawa angin dan membasahi teras rumah. Titik-titiknya pun membasahi sandal yang akan kupakai hari ini. Oh no, segera aku keringkan dengan kain. Ayah pun berdiri dari duduknya, setelah memberikan sedikit petuah bagi Ibu, aku dan adik-adikku, mukanyapun mulai terlihat berair. Air itu terlihat dari bulir yang jatuh di pipinya. Mata sayu dan damai itu tampak memerah. Ibu yang ketika itu berdiri di depan pintu tak kuasa menahan air mata, apalagi kulitanya yang memang putih, semakin menampakkan kalau dirinya sangat lemah ditinggalkan. Adik-adikku pun begitu. Mereka tak kuasa menahan tangis. Aku sendiri berbalik badan katika kudapati mataku sudah tak bisa diajak kompromi, dasar wanita lemah. Tegar dikit dong! Segera kuusap mataku dengan ujung lengan bajuku. Getir. Salam yang diberikan terasa hangat namun menyika. Perih seperih-perihnya. Ayah akan meninggalkan kami untuk sekian kalinya. Ayaaaaaahhhhhh. Aku mencintaimu, benar-benar mencintaimu.
    Sembari menunggu ayah yang menyiapkan sepeda motor yang akan kami pakai ke bandara, aku segera langkahkan kaki terlebih dulu ke gerbang rumah di dekat jalan raya. Ya, tentu alasannya, aku ingin berdamai dengan mata dan hatiku yang sudah berada di ujung keresahan.
    Dear, tahukah kamu, aku tidak pernah sama sekali menemukan diriku demikian sedih ketika ditinggalkan Ayah. Tapi kali ini ada yang terasa berbeda dengan kehadirannya yang sebentar. Berkali-kali ayah pulang pergi ke negeri jiran membuatku biasa. Tapi tidak kali ini. Ada sesuatu yang menancap dan terasa berbekas di relung dan sekat-sekat jiwaku. Aku merasa kehilangan dengan sedalam dan sepedih-pedihnya kehilangan. Mungkin aku sudah semakin dewasa. Ah, aku juga tidak mengerti. Karena seharusnya, dewasaku ini berarti air mataku tidak menetes.
    Di lain sisi, aku masih bingung dengan bibi, dan pamanku yang tidak begitu nyaman dengan keberadaan ayahku. Ya, dulu aku sama seperti mereka. Aku tidak suka dengan kehadiran ayah. Bahkan, panggilan “Ayah” pun tak pernah berani kuucapkan. Kata itu menurutkau adalah kata yang menakutkan, seram dan tidak menyayangiku. Hal yang sangat tidak karuan ini kulakukan bukan tanpa alasan. Atau mungkin hatiku yang kesepian dan merindukan kasih sayang seorang ayah. Aku ditinggalkan dari aku kecil, sepertinya ketika aku baru bisa berjalan. Tapi kepulangannya saat ini membuatku lebih dekat, teramat dekat dengannya. Sungguh, ini tidak sama dengan yang sebelumnya! Aku merasa ayahku adalah pribadi penyayang, penuh humor, enak diajak bertukar pikiran, bijaksana, dan tentunya baik. Tidak seperti apa yang bibi atau pamanku pikirkan. Aku yakin, akulah yang benar, karena akulah yang lebih dekat dengan ayahku.
    Pagi ini benar-benar berair mata. Air mata haru melihat ayahku untuk seeeekian kalinya menginjakkan kakinya, menguatkan langkahnya dan menahan pundaknya untuk kami, aku dan adik-adikku. Aku tidak tahan dengan keadaan ini. Hatiku memberontak keras dan kencang. Aku ingin ayah tinggal di rumah dan tidak akan meninggalkan kami. Ayah…
    ***
    Jalan menuju bandara sudah sampai setengah perjalanan. Sudah tiba saatnya aku harus rela dan ikhlas melepas kepergiannya. Tapi tahukah kau dear, ayah merasakan hal yang sama sepertiku dan seperti ibu dan adik-adik. Dia juga melelehkan air matanya. Dia yang kukenal kuat dan tegas melelehkan air mata begitu deras di perjalanan. Kulihat sendiri dia mengusap matanya berkali-kali. Kulihat sendiri dari belakang.
    Aku bertanya dengan diriku sendiri, apa yang bisa aku lakukan untuknya? Satu kalimat dari Ayah yang membuatku tertegun, “Aku belum berhenti ke negeri orang kalau kamu belum sukses, Nak”. Oh sukses, di bidang apakah aku bisa memberi kebanggaan padanya? Sedangkan selama ini, selama dia ada di rumah, pekerjaanku di tempat kuliah tak pernah benar. Ya Allah, aku mulai terhentak dengan kenyataan. Pantaskah aku mengecewakan orang yang sudah jelas-jelas bukti cintanya padaku???

Aku, Ulya! Ingin menjadi kebanggaan orangtuaku.
Aku dan Ayah

#Ini hanya cerita fiksi. Jika ada kesamaan nama, tokoh dan tempat, mohon dimaklumi.  

0 komentar